Petani mengeluh Hasil Gabah Belum Dibayarkan, Bupati Malinau Berikan Penjelasan dan Siapkan Kebijakan Baru

  • Whatsapp

MALINAU, Cokoliat.com – Para petani di sejumlah Desa di Kabupaten Malinau mengeluhkan hasil gabah yang belum kunjung dibayarkan oleh pihak Perusda Intimung Malinau.

Selain itu, petani juga mengeluhkan tidak terserapnya hasil panen gabah para petani oleh pihak Perusda.

Ketua Kelompok Tani Feruyung Pebaya Desa Semenggaris, Kecamatan Malinau Utara, Agustinus mengungkapkan pembayaran hasil gabah panen terus mengalami keterlambatan sejak bulan Februari lalu.

 

Diketahui, Program beras daerah akan terus digenjot Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau melalui Perusahaan Daerah (Perusda) Intimung Malinau. Salah satunya, ialah menyerap dan memasarkan produk beras asli Malinau ke setiap toko dan mini market di Malinau, bahkan menyasar keluar daerah.

Tak lama setelah Bupati dan Wakil Bupati Malinau terpilih dilantik, dan kembali memprioritaskan program Rasda Plus, namun program itu justru membuat para petani bingung.

Karna hingga saat ini penyerapan gabah petani menurun. Bahkan beberapa petani di sejumlah Desa mengeluhkan sampai saat ini belum menerima pembayaran dari hasil panen beberapa bulan lalu.

“Sekira mulai tanggal 28 Februari, pihak Perusda sudah mulai sulit membayarkan hasil gabah dari para petani,” kata Agustinus saat di temui di kediamannya, Senin (31/5/2021).

Hal itu juga yang menjadi keluhan dari para petani yang biasanya menjual hasil panennya ke pihak Perusda Intimung Malinau. karna belum menerima pembayaran dari hasil panen tersebut.

“Baru aja di tahun ini, dari bulan 2 sudah bermasalah. Masalahnya, mengapa gabah petani itu tidak dapat terserap semua. Beberapa gabah dari petani juga betul ada yang diambil, namun sampai saat ini belum dibayarkan,” ujarnya.

Sementara beras yang ada di Perusda Intimung Malinau, kata Agus, sudah didistribusikan ke toko-toko.

“Seharusnya pihak Perusda harus cepat memberikan solusi terkait penyerapan hasil gabah petani dan pembayaran gabah. Karna para petani juga banyak kebutuhan,” tuturnya.

Selaku Ketua Kelompok Tani di Desanya, Agustinus juga telah menyampaikan keluhannya ke Dinas Pertanian Malinau, terkait keterlambatan pembayaran dan penyerapan hasil gabah petani yang tidak maksimal.

“Kita menyampaikan hal itu agar ada kejelasan dan solusi yang dapat diambil untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” ucapnya.

“Kami sebagai petani secara pribadi sangat semangat dengan adanya program Rasda karna telah membantu pertumbuhan ekonomi para petani,” tambahnya.

Namun, dengan adanya permasalahan tersebut, ucap Agus, ia berharap kepada Pemerintah Daerah, Dinas terkait dan pihak Perusda dapat memberikan solusi kepada para petani agar program Rasda dapat terus berjalan.

Terpisah, Bupati Malinau Wempi W Mawa pun langsung menanggapi terkait dengan keterlambatan pembayaran, hasil gabah para petani di sejumlah Desa tersebut.

Ia menjelaskan, bahwa proses kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan pihak Perusda Intimung Malinau menggunakan sistem kontrak.

“Jadi sistemnya, jika ada gabah petani pihak Perusda bayar dulu. Dengan adanya bukti-bukti pembayaran, setelah itu pihak Perusda baru dapat mengajukan pembayaran kepada Pemerintah Daerah,” jelas Wempi.

Ia menuturkan, untuk saat ini pihak Perusda mengaku belum memiliki dana untuk membeli dan membayarkan gabah para petani.

“Karna begitu banyaknya gabah yang masuk pada saat yang bersamaan ke pihak Perusda,” tuturnya.

Bupati Wempi pun dalam hal ini akan mengambil kebijakan untuk merubah sistem pengelolaan pembayaran gabah dari petani.

“Kita akan rubah sistemnya, jadi kedepan kita akan berikan langsung dana itu kepada pihak Perusda dan mereka yang akan langsung mengelola dana tersebut. Dengan memberikan LPJ pembelian gabah petani kepada Pemerintah Daerah,” tegasnya.

Jadi mulai sekarang, tambahnya, akan diproses pembayarannya sesuai tagihan yang masuk ke Perusda dengan mengajukan LPJ kepada Pemerintah Daerah.

Kedepan, Bupati Malinau juga berharap agar permasalahan seperti ini tidak terjadi lagi dan para Petani dapat hidup dengan sejahtera. (ag)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *