Terancam Erosi, DAM Irigasi Bengalun Perlu Dibenahi

Jembatan irogasi Bengalun, Foto : Abdul Gani

Bendungan atau DAM  irigasi Bengalun tampaknya perlu dibenahi. Terutama pada bagian sisi kiri kanan dinding tembok saluran pintu air dan tembok sayap DAM yang berfungsi sebagai penahan atau pembendung air.

DAM irigasi Bengalun berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 2 x 4 meter. Memiliki 4 sayap di dua ujung bendungan. Sayap-sayap tersebut berfungsi untuk mengatur sekaligus membendung air.

Jika dibandingkan dengan DAM serupa di tempat lain, sangat berbeda. Sedianya DAM berdiri di tengah saluran irigasi dan menutup sempurna arus air. Satu-satunya celah adalah pintu klep yang akan bekerja otomatis membuka dan menutup air, yang keluar masuk. Tembok  yang menjadi sayap DAM yang berfungsi membendung air, menyatu dan tertanam, pada kedua sisi pematang saluran irigasi sehingga tidak ada celah air keluar masuk selain melalui pintu.

Nah, DAM pintu air Bengalun sebaliknya. DAM tidak ditimbun sebagaimana mestinya. Kemudian tembok, sayap, pembendung tidak menyatu dan tertanam pada bantaran saluran irigasi. Akibatnya, muncul celah yang menjadi ruang bagi air untuk keluar masuk selain dari pintu. Celah air tersebut cukup dalam dan lebar sehingga lama kelamaan, dalam kondisi yang tak tertimbun seperti sekarang,  arus itu berpotensi mengikis serta melongsorkan pematang saluran irigasi di sekitar DAM.

Dalam waktu yang lama, tidak mustahil celah itu akan terus melebar akibat pengikisan yang berkelanjutan. Jika itu yang terjadi,  jelas DAM tak akan berfungsi baik.

Gangguan lain bisa muncul dari   kayu-kayu bekas penyangga saat pengecoran dilakukan. Berdirinya kayu-kayu bekas penyangga itu di dalam saluran air berpeluang menjadi biang penyumbatan saluran  pintu air.

“Kami nggak begitu tahu. Apa memang begitu dibuatnya,” ungkap Rahman, warga RT 20 Desa Malinau Kota, salah satu petani di kawasan tersebut.

Rahman dan sekian banyak petani lainnya di sana berharap ada sentuhan lagi dari pemerintah. Sebab ada kondisi-kondisi yang masih perlu dibenahi. Selain DAM ada 2 jembatan yang memerlukan sentuhan tangan. Yaitu penimbunan box culvert pada dua sisi jembatan.

Karena belum ditimbun  box culvert kedua sisi jembatan-jembatan tersebut menyerupai benteng, dengan ketinggian 75-80 cm, yang menghadang jalan para petani. Untuk dapat melewatinya, para petani harus memasang kayu alakadarnya sebagai ‘jembatan’ dari jalan ke atas jembatan. Karena kondisinya. begitu, praktis gerobak, alsintan  apalagi kendaraan tak bisa melintas.

“Gabah saya 2 ton di sana belum bisa terangkut,” keluh Rahman,  petani di sana, warga RT 20 Desa Malinau Kota.

Rahman dan pamannya sedang menyiangi jalan yang membentang di tengah area persawahan, pada Sabtu (2/4). Ia tampak kecewa dan kesal melihat kondisi jembatan yang tak ditimbun sehingga menyulitkan itu.

Kekesalan Rahman dan para petani di sana tampak tak hanya pada jembatan itu. Juga pada  saluran irigasi yang tak berfungsi maksimal dalam mengatur debit air ke area sawah. Kalau air pasang air tetap melimpah ruah masuk. Apalagi pada musim hujan. Di beberapa area sawah, air merendam hingga setengah tinggi batang padi.

DAM Irigasi Bengalum, Foto : Abdul Gani

Media ini belum bisa mendapatkan penjelasan  baik dari pelaksana kegiatan maupun instansi terkait, DPUPR – Perkim Kaltara. Satu-satunya penjelasan diperoleh dari Kepala Desa Malinau Kota, Riemantan Najamudin. Kepada media ini Riemantan memaparkan bahwa 2 jembatan yang dibangun pihaknya dengan dana APBDes belum ditimbun sebagaimana mestinya karena keterbatasan anggaran.

Ia berharap ada tindak lanjut dari pemerintah provinsi untuk terus meningkatkan pembangunan  pertanian-persawahan di kawasan tersebut. Sehingga 30 hektar lahan potensial pertanian di sana menjadi lahan produktif.

Di samping campur tangan pemerintah, peran masyarakat,  juga sangat diperlukan. Para petani di kawasan tersebut perlu solid dan semangat melakukan pemeliharaan terhadap fasilitas yang sudah diberikan pemerintah. Yang dilakukan Rahman dan rekannya adalah contoh tindakan tersebut. Memelihara saluran dengan membersihkannya dari tumbuhan pengganggu dapat dilakukan secara bergotong royong oleh warga.

Untuk diketahui, pembangunan jembatan dan dam pintu air merupakan bagian dari pembangunan irigasi kawasan pertanian-persawahan Bengalun. Proyek tersebut  dilaksanakan sejak tahun 2017. Dimulai dari kegiatan survey investigasi dan desain (SID). DPUPR-Perkim Provinsi Kaltara kala itu mengalokasikan anggaran 1 miliar untuk studi kelayakan. Selanjutnya pada tahun 2018 dan 2019 dilakukan pembangunan saluran irigasi. Tahun 2018 dengan anggaran  Rp 4,752 dikerjakan oleh Anugerah Patria Mandiri. Sementara pada tahun 2019 dengan anggaran Rp4, 117 miliar dan dikerjakan oleh Emas Sultan.

Untuk melengkapi saluran irigasi pada tahun 2021 Pemprov Kaltara menganggarkan lagi sebesar Rp1, 1 miliar. Pagu anggaran sebesar itu digunakan untuk membangun 2 unit jembatan dan 1 unit DAM pintu air  otomatis. Pembangunan sarana pelengkap irigasi ini dikerjakan oleh CV Mandiri.

Untuk memastikan kelanjutan pembangunan fasilitas pelengkap irigasi tersebut terlaksana baik, Wakil Gubernur Kaltara, Yansen TP melalukan peninjauan langsung pada saat proyek dikerjakan sekitar Oktober 2021.

Disaksikan warga dan sejumlah pihak serta media, Wagub Yansen TP berpesan tegas pada kontraktor agar mengerjakan proyek tersebut dengan baik. Berkualitas dan tidak asal-asalan.

(TIM LIPUTAN KHUSUS COKOLIAT.COM)