Cari Modal Tambahan Untuk Buka Warung Kopi, Residivis Ini Nekat Jualan Sabu

  • Whatsapp

TARAKAN, cokoliat.com – Beralasan tidak punya modal untuk buka warung kopi, residivis kasus narkoba yang baru keluar 3 bulan lalu berinisial AS, nekat berjualan sabu. Akibatnya, warga Kelurahan Selumit Pantai ini akhirnya berhasil diringkus anggota Intel Sat Brimob Polda Kaltara.

Dansat Brimob Polda Kaltara Kombes Pol Heri Sulesmono melalui PS Kasi Intel Sat Brimob Polda Kaltara Ipda Moedji Santoso mengatakan, AS diringkus begitu anggota Intel Brimob menerima laporan warga, adanya kegiatan mencurigakan di Jl. Khusuma Bangsa RT. 04, Kelurahan Gunung Lingkas.

Bacaan Lainnya

“Pelaku berhasil kita amankan, Jumat (27/3/2020) kemarin sekitar pukul 14.15 Wita disebuah rumah kosong, di Gang Meranti,” ujar Moedji, Sabtu (28/3/2020).

Moedji menjelaskan, sebelum diamanakan AS sempat diikuti anggota yang melakukan penyelidikan, dilapangan. Sampai akhirnya, AS yang menggunakan motor bertemu seseorang disebuah rumah kosong, hendak melakukan transaksin sabu.

“Dia mau transaksi sabu, tapi begitu dilakukan penggerbekan, pembelinya berhasil kabur dari pengejaran anggota,” ungkap Moedji.

Moedji mengungkapkan, anggota yang melakukan pemeriksaan berhasil mendapatkan satu bungkus sabu ukuran sedang, yang tergeletak di kursi kayu. Waktu digeledah, anggota kembali mendapatkan sabu dengan ukuran sama di dalam tas milik AS.

“Semuanya ada dua bungkus ukuran sedang, beratnya sekitar 98 gram lebih, setelah itu pelaku digiring ke Mako Brimob Polda Kaltara untuk pemeriksaan,” terang Moedji.

Moedji mengatakan, selain sabu turut disita bukti lainnya berupa kotak obat herbal, tas kecil, korek api, dua unit HP, motor dengan Nopol KT 4749 FT, gelang karet dan uang tunai Rp. 400 ribu. Selanjutnya, AS akan diserahkan ke Sat Resnarkoba Polres Tarakan, guna proses hukum lebih lanjut.

“Pelaku terancam pasal 114 ayat 2 junto pasal 112 ayat 2 Undang undang No 35 tahun 2009, selanjutnya kasus ini diserahkan ke Sat Resnarkoba Polres Tarakan,” pungkasnya.

Sementara itu, AS yang diwawancarai awak media mengaku, kalau barang bukti sabu tersebut didapat dari salah satu bandar yang ada di Tawau, Malaysia. Sabu tersebut, dibelinya dengan cara menyerahkan uang muka Rp. 100 juta, untuk setengah kg sabu.

“Saya kenal jaringan sabu di Tawau, waktu menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tarakan, karena kasus yang sama,” beber AS kepada awak media.

Setelah menyerahkan uang muka, AS menceritakan, sabu setengah kg itu selanjunya diantar ke Tarakan oleh kurir di Tawau. Setelah tiba di Tarakan, kemudian sabu dipecah menjadi 10 bungkus sedang, untuk diedarkan kembali kepada pembeli.

“Sempat juga pak ada 8 bungku saya antar untuk yang pesan di Lapas, antarnya tidak sekali gus tapi dicicil sesuai yang pesan, terus yang saya pegang sisa dua dan satunya ada yang pesan,” sebut AS.

Rencanya, jika semua sabu tersebut berhasil dijual, uang dari hasil penjualan sabu tersebut untuk modal buka usaha warung kopi kecil-kecilan. Bahkan, AS menambahkan, berniat berhenti jadi pengedar sabu jika sudah membuka warung kopi.

“Saya ada anak baru kelas 3 SD, makanya ada niat mau berhenti, tapi karena modal belum cukup makanya jualan sabu, karena dari bandar itu katanya mau bantu modal juga,” tutupnya (ck2)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *