Jalani Persidangan, Terdakwa Sabu 1,7 Tangkapan Polda Kaltara Bantah Keterangan Saksi

  • Whatsapp
Jalani persidangan, Bagong saat didamping kuasa hukumnya diruangan persidangan (Foto cokoliat.com)

TARAKAN, cokoliat.com – JA alias Bagong, terdakwa kasus sabu 1,7 kg yang diungkap Dit Resnarkoba Polda Kaltara, beberapa waktu lalu akhirnya menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Tarakan, Selasa (10/3/2020). Di persidangan, Bagong mendengarkan keterangan dua sakis penangkap yakni Nasruddin dan Miftul.

Untuk diketahui, Bagong diduga merupakan bandar sabu yang melakukan transaksi narkoba bersama bandar sabu dari Tawau, Malaysia. Selain Bagong, masih ada beberapa terdakwa lainnya yakni Sapte, Icha, Rahmat, Ruseno dan Undu, semuanya diamankan di Tarakan.

Bacaan Lainnya

Saat dipersidangan, kedua saksi penagkap yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menceritakan, awalnya Bagong enggan mengakui perbuatannya saat diringkus Polisi. Setelah HP miliknya disista, Polisi mendapatkan adanya percakapan dirinya dengan seeorang bandar sabu asal Malaysia.

“Saat diperiksa, kita temukan percakapan di HP Bagong dengan bandar asal Malaysia, dimana percakapannya menyebutkan menyiapkan barang dan nanti ada yang ambil,” sebut Nasruddin.

Dari percakapan tersebut, polisi menyimpulkan kalau Bagong yang diamankan di Kelurahan Kampung Satu/Skip dengan badar di Malaysia, mengarah transaski narkoba. Selain itu, para saksi penangkap ini juga meyebutkan adanya bukti transfer di HP milik Bagong yang disita.

“Bagong diamankan begitu polisi meringkus Sapte sebagai kurirnya, Sapte diamankan di Karang Anyar Pantai dengan cara undercover, usai berkomunikasi dengannya untuk transaksi narkoba 1 kg,” kata Saksi penangkap.

Dikatakan saksi penangkap, sabu 1 kg itu dipesan dengan harga Rp. 360 juta, kemudian dari pengakuan Sapte hanya bertugas mengantar sesuai perintah Bagong. Dari informasi itu, polisi akhirnya berhasil menangkapa Bagong disusul Icha, Rahmat, Ruseno dan Undu.

“Awalnya sabu 1 kg dipegang Icha, kemudian diserahkan ke Ruseno, Undu dan kembali lagi ke Sapte, setelah itu Sapte mengaku lagi masih ada ada sabu ebanyak 21 bungkus, di rumah tantenya,” ujar Nasruddin.

Usai mendengarkan keterangan para saksi penangkap, Bagong yang saat itu duduk dikursi pesakitan didampingi Kuasa Hukumnya, langsung membantah semua keterangan para saksi penangkap dihadapan Hakim Ketua.

“Saya terpaksa mengaku sabu itu, karena saya disiksa terus menerus, awalnya saya tidak mengakui tapi terpaksa mengakui,” ujar Bagon dipersidangan.

Sementara itu, Penasehat Hukum Bagong, Zulkifli menjelaskan, dari semua keterangan saksi dipersidangan hanyanya kesimpulan. Karena, saksi penangkapa ini tidak mengacu pada fakta hukum persidangan.

“Jadi, itu hanya kesmipulannya sendiri, yang dibuat berdasarkan rentetan persitiwa dari penangkapan,” jelas Zulkifli, usai persidangan.

Saat dilakukan penangkapan, lanjut Zulkifli, polisi juga tidak mendatkan barang bukti dari Bagong. Karena, Bagong ditangkap dan dijadikan tersangka hanya berdasarka pengembangan dan keterangan saksi lainnya, yang belum tentu bisa dibuktikan keterangannya.

“Kalau bukti percakapan, tidak bisa dibuka provider karena sudah terlalu lama, kan percakapan bisa saja tidak spesifik menyebutkan kalau barang yang dimaksud adalah sabu,” pungkasnya.

Disisi lain, JPU Muhammad Junaidi yang ditemui usai persidangan menyebutkan, sidang elanjutnya akan dilakukan pada 12 Maret 2020 mendatang. Disidang itu, pihaknya akan memenuhi perintah Majelsi Hakim, agar dapat menghadirkan penyidik Dit Resnarkoba Polda Kaltara sebagai saksi.

“Dipersidangan berikutnya, kita minta dibukakan HP milik Bagong, nanti kita lihat apakah benar ada chat atau panggilan masuk dan keluar ke bandar yang disebut dari Malaysia,” tutupnya (ck2)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *